Ayah Antara Ada dan Tiada

Penyiar Anton Budinugroho mengganti popok anaknya di studio siaran Radio A Jakarta di Jalan Dr Saharjo, Tebet, Jakarta, Rabu (20/6/2012).

KOMPAS.com – Anton Budinugroho (34) adalah ayah muda yang penuh perhatian. Sambil ”nongkrong” di mal, dia mengasuh anaknya yang lincah.

Ya, Anton punya kesadaran penuh ambil bagian dalam mengurus anaknya sampai urusan ganti popok. Mantan anggota kelompok musik Tofu itu mengatakan, dia dan istrinya, Aprina Sulisyani (26), berkomitmen mengurus dan mengasuh anaknya yang masih balita, Aryoda Adinugroho (2), bersama- sama.

”Kami tak mengotak-ngotakkan ini tugas lu, ini tugas gue. Pokoknya siapa yang sempat silakan urus anak mulai mengganti popok, bikin makanan, sampai mengajak main,” ujar Anton yang sehari-hari bekerja sebagai penyiar radio.

Siang itu, Rabu (13/6/2012), Anton punya waktu luang untuk mengurus anak. Sementara itu, istrinya yang berprofesi sebagai koordinator model sedang ada pekerjaan. Karena siang itu punya janji di mal, Anton membawa serta Ayodya. Tanpa kelihatan canggung sama sekali, Anton mengurus semua keperluan anaknya sambil nongkrong di sebuah kedai bersama teman- temannya.

”Kadang saya membawa Ayodya ke studio. Saya siaran, Ayodya diajak main teman-teman saya. Kalau kami berdua sibuk, Ayodya kami titip ke neneknya,” ujar Anton yang piawai mengganti popok dan meracik makanan untuk anaknya.

Hendro Utomo (44) juga mengambil peran dalam pengurusan dan pengasuhan anaknya, Oka Mahesa Utomo (5). Hendro ikut mengurus Oka, mulai dari memandikan, memberi makan, hingga mengajaknya bermain. Selasa (12/6/2012) menjelang senja, Hendro menyempatkan diri bermain ayunan di halaman rumahnya yang luas.

Hampir sepanjang hari itu, Hendro bersama Oka. Dia mengambilkan rapor Oka yang masih duduk di taman kanak-kanak. Lalu, Hendro membawa Oka bertemu seorang mitra kerjanya. ”Saya mengatur waktu dengan istri untuk mengasuh Oka. Kalau sama- sama sibuk, Oka bisa kami ajak ke kantor,” ujar Hendro, yang mengelola perusahaan konsultan PR dan marketing bersama istrinya, Wida Septarina (40).

Awalnya, Hendro tak berpikir akan terlibat dalam pengasuhan anak. Pasalnya, Hendro tidak nyaman berada di dekat anak kecil. ”Hobi saya sangat laki-laki, yakni memelihara anjing pitbull dan aktif di SAR. Bayangkan kalau sedang enak-enak ngumpul dengan teman-teman komunitas, tiba-tiba saya harus mengurus popok anak. Enggak macho banget,” katanya.

Namun, begitu istrinya hamil, pandangan Hendro berubah drastis. Ia terdorong menjalin kedekatan dengan jabang bayi yang masih di dalam kandungan. ”Setiap hari saya sapa dan cium, ternyata lucu juga. Terasa ada ikatan batin yang kuat,” katanya.

Ketika anaknya lahir, Hendro mengambil keputusan besar. Dia menanggalkan jabatannya sebagai senior manager di sebuah perusahaan swasta agar setiap hari bisa mengurus anaknya. Sebagai gantinya, dia terjun mengelola perusahaan kehumasan yang didirikan istrinya. ”Sekarang saya bisa bekerja di rumah sambil mengurus anak,” kata Hendro.

Dipandang aneh
Peran ayah dalam pengasuhan anak tidak bisa diremehkan. Irwan, penggerak Sahabat Ayah—lembaga yang mendorong keterlibatan ayah dalam mengasuh anak—mengatakan, kehadiran ayah secara fisik dan psikologis memberikan stimulus maskulin pada anak. ”Kalau ayah tidak hadir secara psikologis, terutama pada anak usia 0-2 tahun, memori tentang sosok ayah bisa tidak ada.”

Pentingnya peran ayah juga digarisbawahi sebuah penelitian internasional yang dimuat situs artikel sains, Science Daily edisi 12 Juni 2012. Penelitian menyebutkan, kasih sayang ayah sama penting—bahkan bisa lebih penting—dengan kasih sayang ibu dalam pembentukan kepribadian anak.

Mengapa bisa begitu? Sebab anak- anak menaruh perhatian kepada orangtua yang mereka anggap memiliki kekuatan interpersonal dan prestise lebih besar. Karena ayah sering kali dianggap punya prestise lebih tinggi daripada ibu, ayahlah yang lebih berpengaruh dalam hidup anak.

Penelitian yang melibatkan 10.000 peserta di beberapa negara ini juga menemukan, anak yang mengalami penolakan dari orangtuanya cenderung agresif, mudah cemas, dan penuh permusuhan. Luka karena penolakan yang terjadi di masa kanak- kanak cenderung bertahan hingga dewasa. Efek lanjutannya, ketika dewasa, mereka sulit membina hubungan yang dilandasi rasa percaya kepada orang lain.

Irwan melihat masyarakat Indonesia secara umum masih menganggap pengasuhan dan pendidikan anak adalah tanggung jawab perempuan (ibu). Hasil penelitian yang pernah dia lakukan di empat provinsi menunjukkan, anak kebanyakan hanya diasuh ibunya. Ayah umumnya hadir secara fisik, tetapi tidak secara psikologis. ”Ayah itu sosok yang antara ada dan tiada buat anak,” katanya. Ketika anak mulai mengikuti pendidikan usia dini, pengajarnya pun hampir 100 persen perempuan.

Anton dan Hendro juga merasakan, masyarakat belum terlalu siap menerima ayah yang berperan dalam pengurusan anak. Anton menceritakan, dia sering dikasihani orang ketika mengurus anak hingga ke urusan popok. ”Mereka pasti tanya, ’Memang ibunya ke mana, kok sampai ngurus anak sendirian?’.”

Hendro bahkan dikira baru dicerai istrinya ketika sedang mengasuh anak sendirian. Aduh bapak…!

(Budi Suwarna)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s