Chairul Tanjung dan TV Dakwah

Oleh Drs. Usman Yatim, M.Pd, M.Sc.

Pengusaha sukses Chairul  Tanjung  tampil sebagai pembicara dalam Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang digelar di Jakarta, 25 – 28 Juli 2010. Kehadiran Chairul  Tanjung di depan para ulama, zuama dan cendekiawan muslim dari seluruh provinsi itu sungguh menarik perhatian. Apalagi dia berbicara secara blak-blakan dengan bahasa yang mudah dicerna.

Chairul  Tanjung  berbicara terkait tema munas yang mengedepankan peran ulama dalam perbaikan akhlak dan pemberdayaan ekonomi umat. Sebagai pengusaha tentu saja Chairul  Tanjung banyak bicara terkait bidangnya dan memang pemandu acara Prof Dr Yunahar Ilyas yang didampingi, H Amidhan dan Dr Anwar Abbas, mengarahkan tentang bagaimana upaya meningkatkan ekonomi umat.

Menurut Chairul, umat Islam walaupun mayoritas di negeri ini memang harus diakui jauh tertinggal dalam bidang ekonomi.  Dilihat dari pengusaha yang sukses saja, apalagi katagori konglomerat, dari kalangan Islam sangat sedikit. Sementara bila penduduk Indonesia disebut berjumlah sekitar 80% maka dari segi ekonomi hanya menguasai sekitar 20%. Inilah kenyataan yang dihadapi umat sehingga tidaklah salah bila angka kemiskinan memang mayoritas dari pemeluk Islam.

Lantas mengapa umat Islam lemah dalam bidang ekonomi? Menurut pengalaman Chairul  Tanjung, umat Islam secara kultural tidak diarahkan sebagai manusia yang akrab dengan kehidupan ekonomi atau dunia usaha. Masalah yang dihadapi umat Islam memang menyangkut semangat entrepreneurship, kewirausahaan yang terbilang sangat lemah.

Lantas Chairul Tanjung yang lahir di Jakarta, 16 Juni 1962 menjelaskan pengalaman masa kecilnya. Dia meminta dirinya jangan dilihat sekarang yang dikenal luas sebagai usahawan sukses bersama perusahaan yang dipimpinnya Para Group. Lingkungan masa kecilnya tidaklah akrab dengan dunia usaha, bahkan boleh dibilang dia cenderung diminta menjauhi dengan apa yang disebut dengan uang. Padahal, lanjutnya, orang dari keturunan China sudah sejak kanak-kanak dikenalkan dengan uang lewat usaha berdagang. “Masa kecil saya tidak diarahkan berbisnis karena ayah saya adalah seorang wartawan,” tuturnya.

Diceritakan oleh Chairul, dia baru memulai berbisnis ketika ia kuliah dari Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Dia berdagang karena tekad untuk tidak mau menyusahkan orangtua dalam membiayai kuliahnya. Diingatkannya, dalam berbisnis itu modal dalam arti uang bukanlah yang utama, melainkan terpenting adalah tekad yang dimiliki untuk berhasil.

Dalam berbisnis atau berusaha, Chairul sempat jatuh bangun, meski akhirnya ia dapat sukses membangun bisnisnya seperti sekarang. Sebagaimana diketahui  perusahaan konglomerasi milik Chairul, Para Group, kini menjadi sebuah perusahaan bisnis membawahi beberapa perusahaan lain seperti Trans TV, Bank Mega, dan terakhir dia menguasai bisnis ritel Carrefour.

Chairul mengatakan, masa kec