Mengenai Madoff dan Ponzi

Madoff mengatakan bisnis dia adalah sebuah skema Ponzi, dan seluruh media utama dunia melaporkan sesuai dengan apa yang dia katakan. Orang-orang mulai sibuk menjelaskan apa itu skema Ponzi, tetapi tak seorang pun memaparkan secara detail bagaimana bisa bisnis Madoff adalah skema Ponzi.

Tentu saja tidak bisa, katakan Madoff sendiri tidak menjelaskannya.

Saya tidak ingin berspekulasi tentang hal ini. Tetapi satu hal yang perlu Anda ketahui, hanya beberapa hari setelah kasus ini muncul di berita, seorang hakim di Amerika mengatakan bahwa karena Madoff menyelenggarakan sebuah bisnis “penipuan”, maka para “korban” sepantasnya berhak mendapatkan kompensasi!

Berikut beberapa perusahaan yang menjadi “korban” Madoff:
– HSBC
– BNP Paribas
– Nomura
– AXA
– Royal Bank of Scotland
– Fortis
– Swiss Life Holding
– UBS
– Jewish Community Foundation
– etc

**List Korban Madoff

Come on… Lihat baik-baik list di atas. Kita bukan sedang membicarakan ibu-ibu rumah tangga yang kehilangan uang di reksa dana atau bursa saham, perusahaan-perusahaan itu adalah institusi finansial paling profesional di dunia, dan juga organisasi yang dikelola oleh manusia paling licik dan kejam di dunia (Yahudi Talmudik), bagaimana bisa orang-orang percaya mereka adalah “korban?”

Pernahkah Anda meminjam uang ke bank? Dalam dunia riil, meminjam uang tidak sesederhana yang Anda bayangkan. Setiap perusahaan finansial memiliki divisi credit risk department, semua investasi perusahaan itu harus melewati departemen ini. Semakin besar nominal investasi, semakin banyak study & due diligence yang harus dilakukan, dan semakin tinggi posisi orang yang harus menyetujui penanaman uang itu.

Customer Madoff menanam masing-masing ratusan juta dolar dan beberapa ada yang menginvestasikan beberapa miliar dolar kepadanya. Mana mungkin mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Madoff. Apakah Anda benar-benar percaya Madoff mengatakan kepada mereka, “Berikan saja uang kalian kepadaku, jangan tanya apa yang saya lakukan, yang penting setiap tahun saya akan memberikan Anda return 13,5%” dan customer dia setuju begitu saja?

Huh..

Kalau sampai ada bailout kepada mereka, strategi ini jangan-jangan bisa menjalar ke seluruh dunia. Cukup tunjuk satu orang sebagai kambing hitam, maka kerugian uang yang diderita para bankir dan yayasan zionis di pasar finansial bisa dinombok oleh pembayar pajak di masing-masing negara. Luar biasa…!!

Anyway, bagi Anda yang masih tertarik dengan skema Ponzi, berikut adalah sedikit informasi yang bisa saya sharing kepada Anda.

(Terima kasih kepada seorang teman saya yang masih menyimpan file-file lama buku PPB, bila tidak saya tidak bisa memposting file ini lagi)

Buku : Berbohong & Menjadi Kaya
Bab 3 : Skema Ponzi, Piramid Game, dan Kawan-Kawan

Sepintas Tentang Mr. Ponzi

Carlo Ponzi lahir di Italia dan pindah ke New York pada tahun 1893. Saat itu usianya 15 tahun, dan dia suka mencari berbagai jalan singkat menuju kekayaan. Dia pernah masuk penjara di Kanada (karena penipuan surat berantai dan penggunaan cek palsu) dan juga di Atlanta (untuk skema imigrasi ilegal). Akhirnya Ponzi pindah ke Boston tahun 1919.


Berpindah kerja dari satu tempat ke tempat lainnya di kota Boston, pria berbadan kecil ini (tingginya sekitar 156 cm, walaupun sering tidak memiliki pekerjaan, namun selalu mengenakan pakaian yang elegan) bertekad mengubah realita hidupnya. Dia sering begadang membayangkan berbagai cara untuk menjadi kaya dengan cepat.

Boston bukanlah tempat yang sesuai untuk menjadi orang miskin. Kota itu penuh dengan orang kaya dengan gaya hidup yang mewah, hal ini membuat Ponzi muda frustrasi dan sangat kecewa. Dia terus memeras otak untuk memikirkan bagaimana caranya dia akan mendapatkan sebagian dari kemakmuran yang berlimpah di kota barunya. Selama waktu itu, Ponzi juga tidak lupa untuk selalu menyurati keluarga dan saudaranya yang mungkin sedang khawatir padanya, mengingat masa itu adalah masa perang dunia pertama.

Surat-surat yang dia tulis ini kemudian memberikan Ponzi sebuah gagasan yang di kemudian hari dia ilustrasikan sebagai sebuah “gagasan hebat.” Ponzi sendiri mungkin tidak menyangka, skema yang dia ciptakan ini pada akhirnya menjadi bentuk lain dari sistem spekulasi mata uang modern.

Di awal 1900-an, seseorang dapat menyertakan sebuah kupon di dalam surat untuk menghemat biaya koresponden untuk membeli perangko. Sebuah organisasi yang dinamakan International Postal Union mengeluarkan kupon yang dapat diperdagangkan di sejumlah negara tertentu untuk mendapatkan perangko setempat.

Ponzi menemukan bahwa kupon-kupon yang dibeli di negara yang ekonominya lemah dapat dijual dengan sejumlah keuntungan di Amerika Serikat. Dia memutuskan untuk menggunakan sedikit uang yang dengan susah payah dia tabung untuk mencoba “gagasan hebat” ini. Sayangnya, dalam waktu singkat dia menemukan bahwa ada berbagai hal lainnya di skema ini yang membuat impiannya tidak bisa berhasil. Terutama adalah bahwa mayoritas keuntungan pada akhirnya ternyata kembali ke organisasi postal.

Namun, walaupun gagasan hebat dia tidak berhasil, hal yang lain muncul. Setiap kali dia membicarakan skema ini dengan orang lain, mereka tampaknya percaya dan tertarik untuk mendengar lebih lanjut. Teman-teman dan keluarga mereka akan selalu bertanya padanya, tanpa curiga, bagaimana rencana ini harus dilakukan. Orang-orang sangat tertarik dengan investasi ini, walaupun Ponzi sudah tahu skema itu sebenarnya tidak berhasil.

Jadi, di akhir tahun 1919, Ponzi mengambil keputusan yang akan membuat namanya tercatat di sejarah sebagai salah satu icon paling terkenal di dunia penipuan. Dia berhenti membeli kupon perangko internasional dan berurusan dengan birokrasi tak berujung. Mulai saat itu dia fokus untuk melakukan hal yang lebih menguntungkan, yaitu mencari investor.

Pada Desember 1919, Ponzi mulai menggunakan nama baru, “Charles” Ponzi. Dengan modal $150, dia mulai meminjam uang dengan memberikan nota-nota pengembalian di masa mendatang. Dia mulai mengundang teman-teman dan saudara mereka untuk ikut di program yang dia sebut sebagai “Rencana Ponzi.”

Ponzi mengklaim bahwa dia bisa menghasilkan keuntungan 100% dalam beberapa bulan. Masalahnya adalah dia kekurangan modal untuk mengeksploitasi kelemahan sistem postal internasional. Karena masih ada ruang untuk pertumbuhan, dia tidak keberatan untuk berbagi keuntungan dengan investor.

Ponzi melakukan presentasinya secara berhasil. Dia memberi contoh bahwa sebuah kupun yang dia beli di Spanyol dengan harga satu sen dapat ditukar dengan nilai ekuivalen enam sen di Amerika. Keuntungannya adalah lima kali lipat! Nada bicaranya begitu meyakinkan sehingga banyak orang mempercayainya.

Apapun juga yang dia katakan, dia berhasil. Beberapa orang, termasuk teman dekat dan saudara mereka, memutuskan untuk berjudi dengannya, dan Ponzi berhasil mengumpulkan $1.250 dari mereka. 90 hari kemudian, Ponzi memberikan bunga kepada mereka sebesar $750. Investor yang terkagum-kagum padanya menceritakan kisah ini kepada lebih banyak orang. Dalam waktu singkat, kantor Ponzi penuh dengan orang-orang serakah yang ingin menginvestasikan uang mereka kepadanya.

Dengan perjanjian tertulis bahwa dia akan membayar $150 dalam waktu 90 hari untuk setiap $100 yang dia terima, Ponzi berhasil meyakinkan ribuan orang yang akhirnya memberikan jutaan dolar kepadanya (termasuk ¾ anggota kepolisian Boston). Dia juga kadang-kadang menenangkan kebimbangan investornya dengan melunasi pembayarannya dalam waktu 45 hari. Dalam delapan bulan, dia mengumpulkan $9 juta, yang mana kewajibannya adalah $14 juta. Dia membayar agennya komisi sebesar 10%. Termasuk 50% bunga pinjaman kepada investor, bunga yang harus dia bayar sebenarnya adalah 60%.

Tetapi metode finansial gaya Ponzi tidak berdasarkan keuntungan riil dalam berbisnis. Dia menggunakan uang investor baru untuk membayar uang investor lama yang jatuh tempo. Walaupun penuh dengan uang tunai, sebenarnya Ponzi tidaklah menghasilkan uang apapun. Dalam suatu proses pengadilan di kemudian hari, terbukti bahwa sebenarnya Ponzi berada dalam kondisi yang sangat kepepet, semakin besar bisnisnya, semakin besar masalahnya. Dia sama sekali tidak melakukan investasi apapun, semua uang yang sedang dia pegang adalah uang orang-orang yang berhasil ditipunya.

Suatu saat, Ponzi mendapatkan $200 ribu dalam sehari, dengan dividen 50% dalam 90 hari. Akhirnya, dia menaikkan janjinya dengan memberikan 100% bunga dalam tiga bulan. Para investor pun antri menyerahkan uang kepadanya.

Ponzi adalah seorang genius dalam memanipulasi orang. Sebagai contoh: bila seorang investor mau mengambil uang mereka yang jatuh tempo, mereka harus berjalan melewati kantor mereka untuk sampai ke counter yang antriannya sangat panjang karena cuma ada dua atau tiga counter yang buka.

Setelah uang ada di tangan, para investor ini berjalan keluar dengan menghadapi belasan counter investasi yang antriannya pendek. Mayoritas kemudian tergoda untuk menginvestasikan lagi uang mereka. Sangat sedikit orang yang berjalan keluar dari kantor Ponzi dengan uang di tangan.

Di puncak masa likuiditasnya, Ponzi menjadi seorang maniak shopping. Dia menghabiskan waktunya untuk membeli baju baru, jam emas, berlian untuk istrinya, sebuah mobil limosin, dan juga villa 20 kamar di Lexington, pinggir kota Boston. Seperti yang juga dilakukan para penipu yang mengikuti jejaknya, Ponzi menghabiskan sejumlah besar waktunya untuk membelanjakan uangnya.

Di awal bulan Juli 1920, Ponzi mendapatkan omset $1 juta per minggu. Pada suatu hari, Ponzi membawa sebuah tas berisi uang tunai $3 juta menuju Hanover Trust Co., dan membeli sejumlah saham di bank tersebut. Sayang kesuksesan dia tidak berlangsung lama.

Karena setiap hari ada ratusan orang antri di kantornya untuk menyetor dan mengambil uang, seorang editor harian Boston Post meminta pendapat dari sejumlah ahli keuangan dan mereka menyimpulkan bahwa, walaupun memang ada kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan ribuan dolar dari pertukaran kupon perangko, namun “gagasan hebat” Ponzi tidak mungkin sanggup melayani permintaan yang sedemikian besar dengan perdagangan sebesar jutaan dolar.

Tidak lama kemudian, para reporter yang skeptis meminta wawancara dengannya. Karena khawatir akan image-nya, Ponzi menyewa seorang public relation bernama William McMasters untuk menangani publisitasnya. Ini ternyata adalah langkah bumerang baginya. McMasters menghabiskan beberapa hari di kantor Ponzi, dan menemukan bahwa operasi ini adalah sebuah penipuan dan langsung menuju Kejaksaan. “Orang ini adalah seorang idiot finansial,” kata McMasters. “Dia bahkan tidak bisa berhitung…. Dia duduk dengan mengangkat kedua kakinya di meja dan menghisap cerutu lewat pipa emasnya sambil berguman tentang kupon perangko.”

Ponzi dipanggil untuk menghadap pengadilan di Boston. Para penggemar etnik Italianya bersorak mendukung saat Ponzi melewati jalan, namun para auditor dan polisi yang menggeledah kantornya tidak berhasil menemukan apapun, selain catatan nama-nama dan nomor telepon. Karyawannya, saat ditanya, mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya bos mereka mendapatkan profit usaha.

Sebulan kemudian, khawatir akan runtuhnya skema “gagasan hebat”nya, Ponzi membawa $2 juta uang tunai menuju Saratoga Springs. Dia berharap memiliki nasib yang baik di casino tersebut. Dia tidak berhasil, dia kehilangan semuanya.

Pada Agustus 1920, harian Boston Globe menulis sebuah ekspos terhadap skema Ponzi. Nyaris terjadi kerusuhan, ribuan investor yang ketakutan menyerbu kantor Ponzi dan meminta uang mereka kembali. Itu seperti rush terhadap sebuah bank. Pengadilan kemudian menjelaskan secara detail:

Pada tanggal 19 Juli, rekening Ponzi di Hanover Trust adalah $334.000. Pada tanggal 24 Juli adalah sebesar $871.000. Namun, minggu berikutnya terjadi penarikan: $572.000 pada 26 Juli, $228.000 pada 27 Juli, dan $905.000 pada 28 Juli, total melebihi $1.765.000. Walaupun demikian, rekeningnya masih menunjukkan surplus, karena Ponzi menyetor uang tambahan yang dia ambil dari bank lain. Skema ini akhirnya berakhir karena penarikan sebesar $331.000 pada tanggal 9 Agustus. Ponzi bangkrut.

Di puncak skemanya, Ponzi hanya memiliki kupon perangko senilai $30, dengan uang investor sebesar $10 juta dari sekitar 20.000 investor di Boston dan New York.

Dalam masa 10 bulan itu, Ponzi merasakan suka duka tertinggi dari kehidupannya. Kebanyakan investor yang percaya padanya kehilangan seluruh uang mereka. Ponzi akhirnya ditangkap agen Federal dan menjalani hukuman penjara selama empat tahun di penjara Massachusetts.

Setelah keluar dari penjara, Ponzi kembali mengasah bakatnya. Dia melakukan berbagai aksi penipuan di Florida. Akhirnya, dia dideportasi kembali ke Italia. Dalam wawancaranya yang terakhir bersama sebuah harian berita, Ponzi mengatakan bahwa dia tidak menyesal namun berharap dunia memaafkannya.

Yang kemudian terjadi lebih cocok dibilang “melupakannya.” Di awal 1930-an, pimpinan Italia Benito Mussolini secara ceroboh mengira pria bernama Ponzi ini adalah seorang genius perbankan. Ponzi diangkat sebagai pejabat tinggi di pemerintahan Italia. Tidak lama kemudian, para pengikutnya menemukan bahwa pimpinan mereka bahkan tidak bisa berhitung. Ponzi mengetahui bahwa dia segera akan diekspos, dia segera mengepak beberapa tas berisi uang tunai dan berlayar menuju Amerika Selatan.

Namun, ternyata Ponzi melakukan hal yang sama di sana. Ketika Ponzi meninggal di Brazil beberapa tahun setelah itu di salah satu rumah sakit, dia sedang dalam pengawasan polisi.

Mengenali Skema Ponzi:

Skema Ponzi terjadi ketika kita melihat dua kegiatan tersebut:

1. Perancang program menggunakan uang dari investor sendiri untuk membayar bunga “investasi” mereka, sambil menyakinkan mereka untuk tetap mempertahankan dana investasi mereka.
2. Perancang program mencari investor baru dan menggunakan uang mereka untuk membayar kepada investor lama.

Semakin besar bunga yang dijanjikan, semakin besar kebutuhan perancang program untuk menemukan partisipan baru. Semakin cepat masa jatuh tempo yang dijanjikan, semakin cepat perancang program harus menemukan investor baru.

Skema permainan Ponzi tidak mungkin bertahan terlalu lama karena keterbatasan jumlah partisipan di wilayah geografis manapun. Skema ini dapat berumur lebih panjang jika perancang program sanggup membangun sumber pendapatan baru di wilayah lain setelah partisipan di suatu wilayah sudah mencapai tingkat maksimal.

Namun, pada akhirnya, pada suatu ketika semua skema Ponzi pasti akan runtuh. Pertanyaannya hanya satu: Kapan?

Berikut adalah sebuah ilustrasi bagaimana skema Ponzi bekerja di zaman sekarang:

Contoh #25:

Anda mengaku sebagai seorang pengusaha peternakan ayam. Anda membuat perhitungan bisnis peternakan ayam dan menemukan bahwa untuk setiap juta rupiah yang diinvestasikan, Anda bisa mendapatkan keuntungan 400% dalam setahun. Setelah itu, Anda mulai mengundang orang-orang untuk mendengarkan presentasi Anda. Anda menawarkan kepada mereka bunga 25% setiap 3 bulan atas dana investasi mereka.

Ketika orang mulai menginvestasikan uang mereka, Anda secara aktif masih terus mencari investor baru. Saat masa 3 bulan sampai, Anda menggunakan uang investor sendiri untuk membayar mereka. Proses ini dilanjutkan selama yang Anda bisa sampai Anda tidak sanggup membayar para investor lagi.

Di contoh di atas, perancang program tidak memiliki niat untuk mengembangkan peternakan ayam sejak awal. Namun skema Ponzi tidak selalu seperti itu. Kadang-kadang, perancang program bisa jadi benar-benar melaksanakan rencana bisnis yang dia buat. Namun, di tengah jalan, bisnisnya gagal dan dia menemukan bahwa keuntungan dengan mengembangkan skema Ponzi ternyata lebih menguntungkan dibanding dengan rencana bisnis awalnya. Akhirnya, dia berpindah haluan dan fokus pada pencarian investor baru dan mengabaikan rencana bisnis awalnya.

Pyramid Game

Perbedaan utama antara skema Ponzi dengan permainan piramida adalah usaha para partisipan/investor. Pada skema Ponzi, para investor adalah bersikap pasif, mereka tinggal menunggu masa jatuh tempo dan mengambil uang mereka. Sedangkan pada permainan piramida, para partisipan harus secara aktif mencari partisipan baru. Para peserta memang sejak awal menyadari apa yang mereka lakukan, mereka memang sadar bahwa keselamatan modal dan keuntungan yang mereka terima adalah tergantung hasil perekrutan mereka.

Pada permainan piramida, para peserta mula-mula harus membayar biaya tertentu untuk bisa bergabung dengan sistem bisnis itu untuk mencari rekrutan baru dan mendapatkan komisi/bonus dari perusahaan.

Contoh #26:

Sebuah perusahaan, sebut saja PT. Rimba Finance Indonesia, menawarkan peluang “bisnis” seperti ini: Anda disuruh membayar Rp75.000 untuk bergabung dengan mereka. Rp25.000 adalah joining fee, sisa Rp50.000 dibayar kepada lima orang yang merupakan upline Anda, dan masing-masing upline mendapatkan Rp10.000. Setelah membayar uang itu, Anda berhak menjadi anggota perusahaan mereka dan mulai mencari partisipan baru. Para partisipan baru juga akan menyetor Rp75.000 dan Anda sebagai perekrut, upline dari mereka, akan mendapatkan Rp10.000.

Setiap orang boleh merekrut maksimal 5 orang dalam satu level. Karena total ada 5 upline yang akan mendapatkan bayaran, berarti total pembayaran adalah sebesar 5 level. Total pembayaran yang bisa Anda terima secara matematis adalah sebagai berikut:

Level 1 : 5 partisipan : bonus Rp 50.000,-
Level 2 : 25 partisipan : bonus Rp 250.000,-
Level 3 : 125 partisipan : bonus Rp 1.250.000,-
Level 4 : 625 partisipan : bonus Rp 6.250.000,-
Level 5 : 3125 partisipan : bonus Rp 31.250.000,-

Total bonus komulatif matematis adalah:
Rp 39.050.000,-

Ini tampaknya sebuah bisnis yang “masuk akal” dan yang pasti, sangat bonafit, bagi kebanyakan orang. Bayangkan saja, dengan modal Rp75.000, seseorang bisa mendapatkan manfaat maksimal sebesar 39 juta, artinya lebih dari 52.000%. Bisnis atau tabungan deposito jangka pendek mana yang bisa menandingi angka ini?

Sesungguhnya, perusahaan seperti ini beberapa di antaranya menyebut mereka sebagai PT. X, artinya di Indonesia mereka adalah badan hukum yang legal. Saya tidak tahu apakah PT. yang melekat pada nama perusahaan seperti itu adalah jujur atau tidak, yang jelas saya memang pernah melihat brosur iklan dari PT-PT seperti itu.

Pada mayoritas permainan piramida, biaya untuk bergabung biasanya masih terjangkau kebanyakan orang. Para partisipan sejak awal memang sudah menyadari bahwa mereka sedang melakukan usaha piramida. Mereka tidak takut rugi, karena bagi mereka kegiatan itu hanyalah sebuah taruhan judi biasa, kalaupun rugi, kerugiannya masih bisa diterima dan tidak memberatkan.

Semua permainan piramida pada akhirnya akan berkembang seperti skema Ponzi untuk bisa bertahan lebih lama. Mereka harus mengeks-pansikan wilayah “bisnis” mereka ke wilayah geografis lain untuk melanjutkan sumber dana untuk membayar para partisipan sebelumnya.

Karena keterbatasan jumlah populasi dan reputasi piramida yang buruk, permainan atau “bisnis” piramida biasanya tidak bisa berkembang terlalu besar dan berjalan dalam waktu yang lama. Biasanya dalam beberapa bulan, masa ekspansi mereka sudah akan berakhir. Para partisipan yang bergabung belakangan akan kehilangan uang mereka. Jumlah mereka adalah mayoritas, cukup sering adalah lebih dari 90% karena sistem bagi hasil piramida memang mengharuskan demikian.

MLM / Network Marketing,
Orang Kaya Membangun “Jaringan”

Menurut salah satu “guru” finansial yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini: “Orang kaya membangun jaringan, orang miskin dan kelas menengah sibuk mencari pekerjaan.”

Salah satu sistem bisnis yang dipuji setinggi langit oleh “guru” tersebut adalah bisnis Multi Level Marketing (MLM) alias Network Marketing. Katanya, MLM adalah salah satu cara untuk membangun jaringan dan menjadi kaya sambil menolong orang lain. Anehnya, “guru” tersebut tidak bergabung dengan MLM manapun, yang dia lakukan adalah menulis buku untuk memuji MLM dan menjualnya kepada jutaan partisipan MLM. Pada saat dia memuji “jaringan” versi MLM, dia sendiri membangun jaringan versi yang lain, model jaringan bisnis yang lebih konvensional.

Sebenarnya “guru” tersebut tidak berbohong ketika dia mengatakan bahwa MLM akan membuat orang menjadi kaya. Masalahnya adalah kalimat yang barusan sebenarnya belum selesai, permasalahan penting yang harus Anda pikirkan adalah: Kaya bagi siapa? Kaya bagi berapa persen partisipan yang bergabung?

Perusahaan MLM menganggap para distributor mereka sebagai pelaku bisnis independen, orang-orang yang membeli hak distribusi produk bisnis mereka. Sederhananya, bos MLM sedang menjual bisnis kepada para distributor.

Kalau Anda pernah membeli saham, Anda tentunya tahu perusahaan yang hendak go public diharuskan untuk memberikan paparan publik yang akurat tentang bisnis dan data-data keuangan perusahaan. Walaupun kita tahu yang namanya “akurat” versi korporat tidak selalu demikian, namun setidaknya mereka sudah mencoba dan melaksanakan prosedur formal untuk menjual bisnis mereka.

Contoh lain, seorang pedagang yang hendak menjual toko dan bisnisnya, tentunya calon pembeli berhak meminta informasi tentang penjualan toko dan catatan keuangan toko tersebut.

Bila Anda menghadiri “business opportunity” versi MLM, ketika perusahaan itu mencoba menjual hak “bisnis” kepada Anda, data apa yang sebenarnya Anda dapatkan? Apakah mereka akan memberitahu kepada Anda: Siapa mendapatkan berapa? Berapa banyak orang mendapatkan berapa banyak uang? Berapa persen partisipan yang mendapatkan keuntungan? Berapa persen partisipan yang tidak mendapatkan keuntungan?

Beberapa tahun yang lalu, saat saya menjadi partisipan dari suatu program MLM, bila saya mencoba mengajak teman saya untuk ikut MLM dan mereka tidak tertarik, saya benar-benar berpikir demikian dalam hati saya:

 Mereka tidak punya visi.
 Mereka tidak punya impian.
 Mereka butuh motivasi.
 Mereka belum sadar.
 Mereka harus menghadiri seminar “business opportunity” kami.
 Mereka benar-benar kasihan.

Saya tidak menyangka, beberapa tahun setelah itu, saya sendiri akan menjadi anggota masyarakat yang anti-MLM.

Dalam seminar MLM, umumnya kita akan dijelaskan tentang siapa mereka (profil perusahaan), “business plan” mereka (cara bagi hasil/bonus), diikuti dengan berbagai testimonial dan kisah kesuksesan. Di seminar-seminar turunannya, mereka menyelenggarakan seminar motivasi yang intinya adalah berpikir positif, bertindak positif, dan program NLP lainnya.

Bila mengikuti seminar mereka secara rutin, partisipan akan menjadi sangat bersemangat dan sekaligus menjadi “buta.” Mereka tidak lagi bisa melihat gambaran yang akurat tentang apa yang sedang mereka lakukan. Para partisipan menjadi lupa untuk berpikir berapa sebenarnya harga wajar dan manfaat dari produk yang mereka jual, mereka tidak lagi bisa melihat bahwa walaupun pemilik dan sejumlah upline mereka menikmati hidup yang berlimpah, namun peluang matematis mayoritas peserta untuk mencapai level itu adalah mendekati nihil.

Mereka tidak ingat lagi walaupun mereka sedang menjual untuk perusahaan tersebut, semua biaya penjualan dan marketing adalah tanggung jawab mereka sendiri. Dan mereka juga tidak lagi sadar bahwa pembagian hasil/bonus MLM adalah permasalahan sistem kompensasi matematika, bukan berdasarkan seberapa positif/termoti-vasinya mereka. Bila rancangan skema bagi hasil mengharuskan bahwa hanya 1% partisipan yang akan untung dan 99% lainnya rugi, angka ini tidak bisa berubah walaupun 100% partisipan aktif membeli buku, kaset, dan vcd motivasi secara teratur.

Tidak ada yang salah dengan seminar motivasi, sesungguhnya secara pribadi saya sangat salut dengan industri MLM. Mereka bersedia mendidik para partisipannya secara mandiri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain. Masalahnya adalah: Apakah karena kita menggunakan ilmu pengembangan diri positif dalam bekerja, lantas semua yang kita kerjakan otomatis juga menjadi benar?

Bagaimana kalau kita mengajarkan seorang calo obat bius ilmu berpikir positif? Kita mengajari dia untuk bangun lebih pagi, lebih ramah mencari pelanggan, bekerja lebih giat, berpikir lebih optimis, dan akhirnya berhasil menjual lebih banyak. Apakah lantas pekerjaannya menjadi positif?

Tunggu dulu! Jangan salah paham. Saya tidak mengatakan kegiatan MLM adalah salah atau ilegal. Saya tidak berkata demikian. Sampai di sini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa seminar motivasi dan pikiran positif yang diberikan MLM tidak berhubungan dengan positif tidaknya model bisnis mereka. Itu adalah 2 hal yang berbeda. Seminar pikiran positif adalah seminar pikiran positif. MLM adalah MLM. Mereka tidak sama. Bukan karena MLM menyelenggarakan seminar pikiran positif, lantas mereka juga pasti positif.

Saran saya, hadiri saja seminar motivasi MLM, tetapi lebih baik gunakan pelajaran yang didapat untuk melakukan pekerjaan kita sehari-hari. Kalau Anda adalah pedagang, gunakan pelajaran yang didapat untuk menjual lebih banyak. Kalau Anda seorang profesional, gunakan pelajaran yang didapat untuk bekerja lebih cerdas dan efektif. Kalau Anda seorang salesman, gunakan pelajaran yang didapat untuk menutup lebih banyak transaksi.

Angka-angka bicara lebih keras dibanding kata-kata. Berikut adalah data keuangan salah satu MLM top di Amerika yang disajikan dalam bentuk penerimaan per 10.000 distributor.

Komposisi bagi hasil seperti di atas adalah tidak berbeda jauh antara MLM yang satu dengan yang lainnya. Tentu saja, karena sistem bagi hasil antar MLM tidak persis sama, maka angka yang akan terlihat di MLM lain juga akan berbeda. Namun, tetap saja perbedaannya tidak terlalu besar.

Mayoritas partisipan MLM ditakdirkan secara matematis untuk rugi (setelah biaya pembelian dan marketing diperhitungkan). Pola bagi hasil terhadap 10.000 partisipan di atas akan tetap tampak dengan pola yang sama sekalipun mereka semua membaca buku pikiran positif yang sama, mendengarkan kaset pikiran positif yang sama, dan menonton vcd presentasi pikiran positif yang sama. Keberhasilan di sistem bisnis mereka juga sangat tergantung pada posisi dan timing seorang partisipan di bagan perusahaan, bukan hanya permasalahan motivasi dan pikiran positif.

Apa sebenarnya MLM???

Menurut pendapat pribadi saya, perbedaan antara MLM dengan permainan piramida adalah MLM menjual produk tertentu, sedangkan permainan piramida hanya melibatkan perputaran uang para partisipan tanpa produk.

Skema mereka secara garis besar identik, tujuan dan hasil akhir juga demikian. MLM bisa dikategorikan sebagai usaha yang legal adalah berkat adanya produk sah yang mereka jual. Saya akui sejumlah perusahaan MLM memang menjual produk dengan kualitas yang sangat baik, namun saya tetap percaya mayoritas partisipan MLM manapun tidak bergabung dengan mereka karena manfaat produk yang mereka jual, melainkan karena mereka mempercayai janji-janji pendapatan amat besar yang mereka dengar di pertemuan “business opportunity” MLM tersebut.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa MLM bersalah atau ilegal, sesungguhnya saya tidak peduli dengan sistem bagi hasil ekstrim yang terjadi pada sistem bisnis mereka. Sama seperti permainan piramida, di mana sebagaian kecil partisipan mendapatkan keuntungan lewat kerugian masif yang dialami mayoritas peserta, bagi saya itu hanyalah masalah kesepakatan. Seandainya seorang partisipan mengetahui secara jelas apa yang sedang dia lakukan, mengetahui secara jelas peluang menang-kalahnya sejak awal dan tetap sepakat untuk bergabung, ya silakan saja, itu kan hak masing-masing.

Perbedaan ekstrim pendapatan antar orang dalam suatu organisasi di mata saya adalah realita hidup, sekadar memprotes tidaklah ada artinya. Negara kapitalis manapun mengalami masalah ini. Kalau MLM dinyatakan bersalah karena masalah ini, tentunya banyak jenis usaha lainnya yang akan segera menyusul.

Yang penting di mata saya mengenai industri MLM adalah transparansi dan kejujuran mereka. Bila mereka bersedia memberikan data yang akurat kepada distributor dan calon distributor mereka sejak awal tentang peluang menang-kalah di sistem bisnis mereka, bila mereka bersedia memaparkan secara transparan laporan pembayaran riil mereka kepada semua level distributornya, saya tidak akan mengkritik mereka lagi.

Sebagai contoh, di Amerika Serikat, salah satu perusahaan MLM paling terkenal diperintahkan oleh FTC (Federal Trade Commission) untuk menuliskan label berikut di semua produk mereka: “54% dari distributor kami tidak men-dapatkan keuntungan dan sisanya mendapatkan rata-rata $65 per bulan.” Sayangnya, perusahaan ini tidak diharuskan untuk melakukan hal yang sama di perusahaan cabangnya di negara lain, termasuk Indonesia.

Perbedaan MLM Dengan Perusahaan Direct-Selling

Sering kali kita mendengar dari pelaku MLM bahwa mereka adalah perusahaan direct-selling, namun hal itu lebih sering daripada tidak, adalah tidak benar. Perusahaan direct-selling (penjualan langsung) menitikberatkan usaha mereka untuk menjual produk ke konsumen non-distributor. Mayoritas pendapatan mereka adalah lewat penjualan retail. Pada kebanyakan MLM, perhatian utama mereka bukan meretailkan produk ke konsumen non-distributor, melainkan mencari dan membangun jaringan downline lewat aksi perekrutan demi komisi/bonus.

 

Mengenai Madoff dan Ponzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s