Kejamnya “Disinformation Operations” di Mesir

SUMBER : http://iwanyuliyanto.wordpress.com/2013/08/21/kejamnya-disinformation-operations-di-mesir/#more-2973

 

Kejamnya “Disinformation Operations” di Mesir

 

[Pro-Kudeta Memanipulasi Berita dan Membunuh Para Jurnalis di Mesir]

.

Bismillah… 

Sampai saat ini saya masih concern pada bahasan tentang pemutar-balikan fakta oleh media dalam mendukung kelompok tertentu. Seputar kejahatan media bisa Anda telusuri dalam blog ini pada kategori: media-journalism. Anda bisa menganalisanya, atas berulangnya kebohongan-kebohongan, fitnahan-fitnahan oleh media secara intens, sesungguhnya ada agenda apa dibalik semua itu. Silakan membuka mata, hati dan pikiran.

Sekedar intermezzo sebelum ke pembahasan utama tentang Kudeta dan Pembantaian Manusia di Mesir. Saya sajikan sekilas info terlebih dahulu tentang berita di dalam negeri.

Beberapa hari yang lalu, Wakil Forum Rektor se Indonesia Tufan Maulamin, melaporkan Metro TV ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan alasan Metro TV melakukan kebohongan dalam pemberitaan soal Mesir. [Fimadani, 17 Agustus 2013].

Di hari berikutnya, Dewan Pimpinan Pusat Front Pembela Islam (DPP FPI) tidak terima dengan fitnah yang dilakukan stasiun televisi Metro TV terkait penangkapan salah satu anggotanya oleh Densus 88 di Tasikmalaya yang diduga pelaku penembakan polisi. Tuduhan itu dirasa ngawur, maka FPI berencana melaporkan stasiun Metro TV itu ke Dewan Pers.[Suara Islam, 19.08.2013]. Faktanya pihak kepolisian mengaku khilaf dan kemudian mengajak FPI bersama-sama mencari pelaku penembakan polisi [Sindo News, 20.08.2013]. Tapi lihatlah, karena sebelumnya Metro TV gencar mem-blow up drama penangkapan itu dari jam ke jam, sehingga banyak yang menghujat FPI di berbagai sosial media saat itu, bahkan hingga hari ini masih saja ramai orang menghujat, silakan googling 24 jam terakhir dengan keyword: FPI densus. Padahal kepolisian sudah mengklarifikasinya dan memulangkan orang yang dituduh itu [VOA Islam, 20.08.2013].

Ya begitulah perilaku sebagian orang yang hatinya penuh dengan kebencian sehingga tidak bersikap adil atas suatu berita. Media yang memberikan informasi menyesatkan adalah alat sihir di jaman modern ini. Media tersebut mampu mengontrol banyak orang untuk berperilaku rusak. Informasi sesat bisa membuat orang baik menjadi pendengki, dan membuat orang jahat menjadi makin kerdil dengan kebodohannya, sehingga makin jauh dari hidayah-Nya.

Kita bersyukur ada social-media (baik dalam bentuk blog maupun micro-blogging) yang akunnya dimiliki orang-orang shalih yang dekat dengan kebenaran, pelaku peristiwa, atau di dalam lingkaran A1. Sehingga pesan-pesannya mampu membongkar dan membungkam kejahatan media yang memberikan informasi menyesatkan.

Itulah sekilas info pembuka jurnal ini, dan mari kita berseru:

Wahai para pemilik media,
Waspadalah… manusia tak akan pernah menggenggam hati manusia kecuali dengan kebenaran.
Hidup sosial media!!!

.
Baiklah, mari ke pokok jurnal ini diseputar kudeta dan pembantaian manusia di Mesir (bukan “bentrok” seperti yang ditulis oleh media-media jahil). Jurnal ini tidak menyampaikan tentang akar permasalahan kudeta di Mesir atau siapa yang bersalah dalam peristiwa tersebut. Tetapi lebih menyoroti bagaimana media-media sesat menyampaikan informasi yang berbeda 180 derajat dari fakta-fakta di lapangan. Dan bagaimana para pelaku media yang memberitakan dengan benar itu mengalami nasib diburu, ditahan, dan bahkan ada yang dibunuh dalam tugasnya. Dari informasi ini semoga Anda bisa bijak dalam menyikapi peristiwa kudeta dan pembantaian manusia di Mesir.

Bagian Pertama diawali dengan kultwit tentang “Disinformation Operations” oleh Pak Ganjar; kemudian dilanjut dengan bagian Kedua tentang pembunuhan-pembunuhan jurnalis di Mesir yang saya kumpulkan dari kepingan-kepingan informasi selama beberapa hari ini. Upaya pembunuhan jurnalis itu bertujuan agar berita yang benar tidak sampai ke publik. Kemudian jurnal ini ditutup oleh pengungkapan adanya konspirasi busuk yang memanfaatkan media untuk mencapai cita-cita penguasa zalim.

Pak Ganjar Widhiyoga, SIP, MA (PhD Candidate in Politics Newcastle University & Lecturer at Universitas Slamet Riyadi) memaparkan analisa tentang Disinformation Operations, yaitu bagaimana upaya menggulingkan Mohamed Morsi melalui operasi media yang menyudutkan Morsi dan kabinetnya. Pemaparan itu disampaikan melalui kultwit dengan tagar#DisinformasiOps pada 19 Agustus 2013.

#Disinformasi Ops.
Bagaimana Pro-Kudeta Memanipulasi Berita

oleh Ganjar Widhiyoga [@GanjarWY]

Bismillah, diskusi malam ini tentang Sandiwara Kudeta untuk menutupi informasi, request @sintingbuku dan @afifahafra79 #DisinformasiOps

  1. Upaya menggulingkan Mursi diawali dengan operasi media menyudutkan Mursi dan kabinetnya.
  2. Media lokal Mesir dimiliki oleh kroni Mubarak. Jadi ikut kepentingan pemilik modalnya.
  3. Beberapa issue yang dimainkan: (a) kegagalan pemerintahan Mursi; (b) issue sektarian; (c) elitisme; (d) kedekatan dengan Hamas.
    (a1) Pemerintahan Mursi mendapat banyak sabotase. Misalnya, listrik sering mati. Anehnya begitu Mursi dikudeta, listrik nyala terus.
    (a2) Keberhasilannya tidak disebut: investasi yang naik 7%, turisme yang bersemi kembali dan keberhasilan panen.
    (a3) Lihat: EGYPT NARRATIVES: A Brief Critique of the Reasons Advanced to Justify the Egyptian Military Coup of July 2013.
    (b1) Issue sektarian juga disorot Media. Mursi dan latar belakangnya sebagai aktivis Islam dicerminkan anti-Koptik.
    (b2) Padahal Mursi memberikan kursi khusus bagi perwakilan Koptik di parlemen.
    (b3) Kejahatan terhadap komunitas Koptik dilakukan pihak tak dikenal dan menjadi parah karena polisi diam.
    (b4) Akhirnya pemuda IM yang menjaga gereja selama Natal. [AhramOnline: Muslim Brotherhood to protect churches on Coptic Christmas]
    (b5) tapi tanpa polisi, keamanan tidak bisa pulih. Mursi pun menjadi bulan-bulanan karena dianggap tidak mampu menjaga keamanan.
    (c1) Mursi juga digambarkan elitis: memenuhi kabinet dengan anggota IM. Padahal tidak.
    (c2) PM Hisham Qandil adalah seorang profesional, bukan anggota FJP.
    (c3) Dari 36 menteri, hanya lima (14%) yang anggota FJP. Bandingkan dengan di Indonesia, berapa menteri dari partai pemenang?
    (c4) Mursi menawarkan kursi menteri pada 3 kandidat yang kalah: Sabbahi, Abul Futuh dan Khaled Ali.
    (c5) Ketiganya menolak, dan terus menuntut hasil pemilu dibatalkan.
    (c6) Mursi mengeluarkan dekrit presiden karena Mahkamah Konstitusi dikuasai pro-Mubarak dan merongrong pemerintahan.
    (c7) Tetapi setelah keluar reaksi keras, Mursi membatalkan Dekrit. But the damage had been done.
    (d1) Issue terakhir adalah kedekatan dengan Hamas. #DisinformasiOps citrakan Mursi korbankan rakyat Mesir demi Hamas.
    (d2) listrik yang sering mati digosipkan karena energi dipasok untuk Gaza. (gimana caranya?)
    (d3) #DisinformasiOps kipasi terus. Taufiq Okasha, figur kroni Mubarak, kampanyekan sentiment anti-Hamas di masyarakat Mesir.
    (d4) Polisi Mesir pun meningkatkan razia terhadap terowongan yang menghubungkan Gaza dan Mesir.
    (d5) Alasan polisi: hentikan penyelundupan ke Gaza. Media mendukung polisi.
  4. Berkat #DisinformasiOps, muncul kebencian pada Mursi di kalangan rakyat umum.
  5. #DisinformasiOps diikuti dengan munculnya Tamarud: gerakan yang dicitrakan murni dari anak muda liberal.
  6. Sekarang ketahuan, pentolan Tamarud mendukung otoritarianisme militer dan polisi [Time: Egyptian ‘Liberals’ Are Out for Blood]
  7. Aksi anti-Mursi pun meluas. #DisinformasiOps menggemborkannya ke penjuru negeri.
  8. Aksi pro-Mursi sebenarnya ada. Tapi #DisinformasiOps membuatnya tampak kecil dan eksklusif IM saja.
  9. Media lokal semua ambil bagian dalam #DisinformasiOps, kecuali media milik IM.
  10. Saat kudeta, #DisinformasiOps terus berlangsung. Puncaknya, Mursi diturunkan. Media milik IM diberangus.
  11. #DisinformasiOps terus dilangsungkan. Tetapi media internasional mulai masuk.
  12. Dalam uji coba pemberangusan pro-Mursi, media internasional melawan #DisinformasiOps.
  13. Bisa jadi media internasional tidak pro-Mursi, tetapi jurnalis internasional melihat sendiri di lapangan dan menyebarkan langsung via socmed.
  14. Pro-Mursi juga memanfaatkan socmed untuk memerangi #DisinformasiOps.
  15. Pada kekerasan awal, terjadi perang opini antara media lokal pro-Mubarak, pro-kudeta dan media internasional.
  16. Puncaknya ketika pembantaian Raba’a terjadi. #DisinformasiOps gagal memberangus media internasional dan socmed.
  17. Foto-foto dari @mosaaberizing membuyarkan #DisinformasiOps. Ketahuan pro-Mursi tak bersenjata.
    [catatan saya: Kita bisa melihat karya saksi pembantaian dari fotografer Mosa’ab Elshamy di Flickr: Set 1Set 2Set 3Set 4]
  18. Laporan wartawan @JamalsNews@PatrickKingsley@BelTrew,@Ahauslohner dkk menyajikan info tandingan dari #DisinformasiOps.
  19. Kembali, meski wartawan-wartawan tersebut tidak pro-Mursi, tetapi mereka menyampaikan apa adanya dalam memberitakan.
  20. Selama berhari-hari, pro-Kudeta berusaha melakukan #DisinformasiOps tapi gagal.
  21. Puncaknya, saat polisi niatkan menyerbu Masjid Al Fatah. #DisinformasiOps coba menutupi rencana tersebut.
  22. #DisinformasiOps gagal total karena ternyata ada live streaming dari dalam Masjid Al Fatah, disiarkan Al Jazeera.
  23. Berikut video detik-detik penyerangan yang berhasil direkam: alfath mosque threatening
  24. Akhirnya penyerangan dibatalkan, #DisinformasiOps pun dirancang ulang.
  25. Polisi menampilkan wajah bersahabat pada demonstran di Al Fatah.
  26. Tapi, mereka menyiapkan preman berbaju sipil. Preman ini yang menyerang demonstran yang keluar masjid.
  27. Kronologi pemberesan Al Fatah lihat: Penyerangan Masjid Al Fatah 17-08-2013
  28. Tapi di balik wajah damai itu, ada kekerasan yang terjadi. Aktivis anti-Kudeta diserang. [YouTube]
  29. Foto-foto kekerasan terhadap aktivis anti-kudeta: Chaos in Egypt – The Blockade!
  30. Semua dilakukan preman. Polisi ada tapi diam. Setelah dirasa cukup, polisi turun tangan “menyelamatkan” aktivis anti-Kudeta.
  31. Wartawan internasional juga kena.
  32. Sejak malam sebelumnya, beredar kabar bahwa pemerintah Mesir menilai wartawan internasional sebagai antek IM.
  33. Ketika Al Fatah dibereskan, wartawan yang meliput mendapatkan serangan fisik dari para preman.
  34. Sebagian besar wartawan mengalami kekerasan. Kembali, polisi diam kemudian “menyelamatkan” mereka.
  35. Laporan dari Louise Loveluck: [report], Nancy Youssef: [report]
  36. Patrick Kingsley: [report], Hugo Bachega: [report]
  37. Sharif Kuddous, Alastair Beach dan Matt McBradley: [report]
  38. Jurnalis yang menyiarkan live feed juga terancam: @syurdam’s report,@ahauslohner’s reportmonem’s report
  39. Laporan CJP: Wartawan internasional lebih terancam di era Sisi daripada di era Mubarak: Al-Jazeera raided, journalists assaulted in Egypt
  40. Terjadi intimidasi oleh preman pada wartawan. Sementara polisi menjadi “Pihak Baik” yang menyelamatkan [Egypt government paints opponents as terrorists; US journalists targeted]. #DisinformasiOps klise!
  41. Esok harinya, pemerintah kudeta menyiapkan information pack untuk wartawan internasional.
  42. Gerak wartawan internasional dibatasi, mereka tidak bisa meliput langsung. Harus mengandalkan sumber sekunder dari pemerintah.
  43. Akibatnya, 18/8 sepi informasi. 19/8 pun sepi informasi dari wartawan internasional. Teh @maimonh yang mengamati juga merasakan itu.
  44. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib aktivis anti-kudeta dari Al Fatah.
  45. Beberapa jam lalu baru terungkap, mereka ditangkap dan dibawa ke penjara. Padahal polisi/militer berjanji melepaskan mereka.
  46. 38 orang aktivis meninggal; versi pemerintah kudeta mereka hendak melarikan diri kemudian dilempari gas air mata.
  47. Namun laporan Pengacara @OssamaElmahdy di RS, mengirim foto anggota IM yang dibunuh antara Masjid Al Fatah ke penjarapic.twitter.com/uwOghKEdkv[catatan saya: awas, fotonya mengerikan]
  48. Wartawati @Sarahcarr menerjemahkan @OssamaElmahdy: (1) tubuh mereka nampak seperti terbakar; Aku (Ossama) tidak melihat ada tembakan di tubuh mereka.
  49. Wartawati @Sarahcarr menerjemahkan @OssamaElmahdy: (2) wajah tampak biru, hampir hitam. Keluarga mengira mereka terbakar, tapi tidak terbakar.
  50. Sekarang wartawan sibuk bahas bebasnya Mubarak. cek sajatiny.cc/ew911w atau ikuti @bradleyhope | nasib aktivis yang ditahan gimana?
  51. Begitulah #DisinformasiOps yang dilaksanakan pemerintah kudeta. Sadar tidak bisa kontrol media dengan cara 1980-an, mereka menggunakan cara yang lebih halus.
  52. Imbas #DisinformasiOps ini sama saja: nasib aktivis anti-kudeta jadi tidak terdengar. Bebas? Ditahan? Hidup? Mati?
  53. Demikian diskusi dengan tema #DisinformasiOps, silahkan kalau ada tambahan/masukan. Salam :)
  54. Tambahan: percaya ga percaya, #DisinformasiOps juga terjadi di Indonesia :) Silahkan baca artikel saya: Ketika Media Memelintir Mursi (Lagi). Semoga mencerahkan.
  55. Share artikel saya di AntaraNews: The Fall of Egyptian Democracy, semoga Mas @masrachmat berkenan mengomentari :)

[Catatan: Tweet-tweet tentang #DisinformasiOps telah dikumpulkan di Storify].

.
PEMBUNUHAN JURNALIS UNTUK MENUTUPI KEBENARAN

Inilah beberapa kepingan-kepingan berita yang saya kumpulkan atas kedzaliman yang kini berlangsung di bumi Mesir, kedzaliman bukan hanya pada ribuan orang yang meninggal dunia di sana, dan puluhan ribu lainnya luka parah, namun kedzaliman juga menimpa pada jurnalis yang mencoba mengungkap informasi di Mesir sekarang. Para insan media itu diserang, ditahan, bahkan kemudian dibunuh di Mesir. Penahanan dan pembunuhan jurnalis adalah ciri-ciri dari sebuah kebiadaban yang ingin menutupi kejahatannya. Penguasa kudeta memakai media miliknya untuk mengelabui dunia dan memburu media netral / pro MM untuk dimatikan suaranya. Semua represi kepada jurnalis netral adalah bagian dari skenario “Disinformation Operations” yang dijelaskan di atas.

Inilah daftar berita jurnalis-jurnalis yang di-dzalimi dalam menjalankan tugasnya di sana:

  1. DW.de: Threatened, harassed, killed: journalists in Egypt | 17.08.2013
  2. Antara News: Wartawan ANTARA terkena razia WNA di Mesir | 17.08.2013
  3. HuffingtonPost: Multiple Journalists Shot Dead In Egypt Violence [UPDATED]. Dalam bagian berita tersebut ada pesan dari David Cameron tentang Mick Deane, ada informasi tentang Habeeba Ahmed yang dibunuh ketika sedang cuti dari tugasnya. Sumber ikhwan menduga dia dibunuh karena tulisannya.
  4. Ini juga mengerikan, seorang reporter men-twit informasi bahwa snipper di helikopter memburu dan menembak mereka yang membawa kamera.

    Di arsip Youtube, banyak ditemukan video mereka yang membawa kamera tiba-tiba terhempas badannya karena ditembak oleh snipper.
  5. Ahmed Abdelgawad adalah fotografer yang kesekian ditembak mati [status @EgyAntiCoup]
  6. Kompas: Ahmed Samir Assem, Fotografer Mesir Abadikan Saat-saat Kematiannya Sendiri | 10.07.2013.
  7. The Independent: Mick Deane, senior TV journalist of Sky News, killed in Egypt | He is a guru in TV journalism.
  8. Fimadani: Kesaksian Jurnalis Washington Post yang Terjebak dalam Pembantaian Mesir | 15.08.2013 | Ini kesaksian atas peristiwa yang teramat sadis. Bayangkan Anda berada di posisi tersebut.
  9. AlArabiya: Tamer Abdul Rauf, Wartawan dan direktur kantor koran Al-Ahram di Al-Buhaera yang dibunuh oleh Junta militer di Damanhur, Mesir. | 20.08.2013. Tulisan terakhir beliau di Facebook:

    Yang artinya:
    “Saya tegaskan bahwa 70% apa yang disebarkan oleh koran-koran dan disiarkan oleh channel televisi, tidak lain adalah kebohongan-kebohongan dan informasi yang rancu dan memutar balikkan fakta, dan sudah masuk ke dalam perang kejiwaan dan media yang diusahakan oleh kelompok-kelompok yang terlibat pertarungan di Mesir untuk kepentingannya”.

  10. ….. next, will be updated

Begitulah bagaimana Penguasa Kudeta memakai media miliknya untuk mengelabui dunia dan memburu media baik yang netral maupun yang pro-Morsi untuk dimatikan suaranya.

.
KONSPIRASI KELOMPOK LIBERAL-SEKULER DAN MILITER

Satu kunci sukses militer yang berkerjasama dengan kelompok liberal-sekuler untuk menggulingkan Morsi adalah keberhasilan mereka membangun opini penuh kebohongan bahwa pengikut Morsi, Ikhwanul Muslimin adalah teroris, ancaman buat Mesir dan julukan-julukan buruk lainnya.

Militer juga berhasil membuat polarisasi bahwa yang terjadi seakan-akan adalah pertarungan antara masyarakat dan kelompok Ikhwan. Seakan-akan itu hanya urusan Ikhwan bukan kaum muslimin. Mereka juga melakukan politik adu domba di tengah-tengah umat.

Dalam The New York Times, 15.07.2013, David E. Kirkpatrick menulis artikel yang berjudul “Egyptian Liberals Embrace the Military, Brooking No Dissent”. Dalam artikel tersebut disampaikan bahwa:

Liberal talk-show hosts denounce the Brotherhood as a foreign menace and its members as “sadistic, extremely violent creatures” unfit for political life. A leading human rights advocate blames the Brotherhood’s “filthy” leaders for the deaths of more than 50 of their own supporters in a mass shooting by soldiers and the police.

[catatan: Brotherhood = Ikhwanul Muslimin]

A hypernationalist euphoria unleashed in Egypt by the toppling of Mr. Morsi has swept up even liberals and leftists who spent years struggling against the country’s previous military-backed governments.

Media pro kudeta sebelumnya telah bekerja selama berbulan-bulan untuk membangkitkan sentimen nasionalis untuk melawan Ikhwanul MUslimin, misalnya dengan mengedarkan berita palsu bahwa mereka sedang mempertimbangkan untuk memberikan Sinai atau menjual Terusan Suez. Kemudian pembawa acara televisi telah menegaskan bahwa banyak pendukung demonstrasi pro-Morsi sebenarnya penuh dengan orang-orang Suriah dan Palestina.

Ada foto dan video yang selalu dijadikan senjata penguasa kudeta. Sebelum kudeta itu, disiarkan gambar-gambar dari udara yang menunjukkan meningkatnya protes terhadap Morsi. Pada hari Minggu, stasiun itu merilis siaran 30 menit yang menggambarkan tentara melindungi masyarakat.

Saluran televisi negara dan swasta juga menyiarkan gambar Jenderal Abdul Fattah-el-Sisi yang sedang menjelaskan kewajiban militer untuk campur tangan bagi kepentingan nasional. “Mesir adalah ibu dari dunia, dan Mesir akan sama besarnya dengan dunia,” katanya.

Detail penyampaian jurnalis David E. Kirkpatrick tentang konspirasi busuk antara kelompok liberal dan militer bersama media di Mesir bisa Anda baca langsung pada sumber yang saya kasih link di atas.

Sungguh begitu kejam “Disinformation Operations” yang dilancarkan kelompok “Elit” / Penguasa Kudeta tersebut; selain menebarkan fitnah, memanipulasi berita, juga membunuh pelaku sumber informasi yang membawa kebenaran.

Dengan melihat fakta junta militer Mesir membungkam kebebasan pers dengan menindas dan menghabisi nyawa para jurnalis yang berada di sana, semoga para insan pers di negeri ini menunjukkan kepeduliannya terhadap saudara-saudara seprofesinya, minimal dengan menuliskan berita yang benar atas peristiwa di Mesir.

Bila sampai saat ini Anda masih belum yakin betapa jahatnya penguasa kudeta yang telah membunuh ribuan warganya dalam waktu singkat, maka silakan Anda menjawab pertanyaan sederhana:
“Mengapa para jurnalis itu diburu dan dibunuh?”

Ya Allah, saksikanlah…

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
21.08.2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s