Penilaian TeSCA

Apa Sih yang Dinilai dalam TeSCA?

Penerapan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dalam dunia pendidikan, termasuk perguruan tinggi sangat diperlukan. Mengingat banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan hal tersebut.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran tersebut adalah melalui Telkom Smart Campus Award (TeSCA). Pemeringkatan terhadap kampus dengan kesadaran ICT yang tinggi itu diharapkan dapat memacu setiap kampus untuk berlomba-lomba mengaplikasikan ICT dalam pendidikan.

“TeSCA lahir pada 2008 untuk mengukur kecerdasan perguruan tinggi dalam bidang ICT. Smart bukan dalam infrastruktur saja, tapi tujuan utama infrastruktur, yakni berbagi ilmu,” kata salah satu juri TeSCA Nizam saat pengumuman TeSCA 2013 di Hotel Dharmawangsa, Jakarta.

Dewan juri lainnya, yaitu Zainal Hasibuan menyatakan, masih banyak perguruan tinggi yang belum menyadari manfaat dari penerapan ICT di dunia pendidikan. Padahal, dengan ICT peluang setiap kampus untuk maju di tingkat nasional maupun internasional akan terbuka lebar.

“Spektrum perguruan tinggi sangat luas. Bukan hanya Universitas Indonesia (UI) atau Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bisa maju tapi juga kampus lain. Kita bisa berbagi buku, jurnal, dan kegiatan lain di kampus. Semua dimungkinkan dengan adanya ICT,” tutur Zainal.

Ke depan, tambahnya, dapat dipetakan penggunaan ICT di kampus masing-masing sehingga mendapat perlakuan yang khusus mengenai masalah ICT yang ada di kampus tersebut. Lantas, apa sebenarnya kriteria penilaian dalam TeSCA? Juri TeSCA lainnya, yakni Richardus Eko Indrajit menyebut, terdapat 10 kriteria penilaian pada TeSCA.

“Pertama, infrastruktur terkait konektivitas jaringan di kampus tersebut. Kedua, apa yang berjalan di dalam jaringan tersebut? Bisa berupa data dan penelitian,” urai Eko.

Ketiga, lanjutnya, terkait aplikasi yang digunakan untuk menjalankan program tersebut. Keempat, siapa yang mengerjakan hasil penelitian maupun data yang dihimpun dalam jaringan? Tentu saja literasi dosen dan mahasiswa.

“Kelima, terkait kebijakan (policy). Keenam, mengenai manfaat yang dirasakan (efektivitas dan efisiensi). Ketujuh, sejauh mana data dalam jaringan tersebut bisa berpartisipasi dalam pendidikan di Indonesia,” jelasnya.

Poin kedelapan menyangkut sejauh mana perguruan tinggi tersebut mampu melakukan sharing resources terhadap perguruan tinggi lain. Sembilan, terkait proses akreditasi.

“Kampus berakreditasi A harus membimbing yang berakreditasi C tapi sayangnya suka lupa. Bagaimana kalau sekarang di balik. Harus membimbing dulu baru diberikan akreditasi A,” urai Eko.

Terakhir, sejauh mana kepedulian kampus tersebut menggunakan infrastruktur (komputer) ICT yang ramah lingkungan. Sehingga ICT tidak hanya untuk kegiatan belajar mengajar tapi juga untuk penelitian dan lingkungan.

Sumber : http://kampus.okezone.com/read/2013/05/02/373/801077/apa-sih-yang-dinilai-dalam-tesca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s