Ternyata Perkebunan Kelapa Sawit Yang Membuat Deforestasi Paling Besar Itu Ada Di Negara-negara Eropa

PERKEBUNAN kelapa sawit di Indonesia terus tertuduh merusak lingkungan. Dahulu tahun 1999 sampai 2005 sangat gencar masyarakat Amerika dan Eropa menilai PERKEBUNAN dan hasil kelapa sawit Indonesia merusak lingkungan. Namun, tidak pernah ada fakta yang mampu membuktikan kebenaran penilaian dan tuduhan itu. Saat ini, giliran Australia menyerang perkebunan dan hasil kelapa sawit Indonesia dengan tuduhan sama yang pernah dilakukan Amerika dan Eropa. Hebatnya, Australia menuduh perkebunan dan hasil kelapa sawit Indonesia merusak lingkungan dan pada waktu yang sama Australia mengklaim sebagai produsen bibit kelapa sawit terbaik di dunia.

Perkembangan perkebunan kelapa sawit mulai terjadi pada tahun 1980-an saat Pemerintah Indonesia dibantu Bank Dunia mengembangkan kelapa sawit mempergunakan Anggaran Perbelanjaan Belanja Negara (APBN) untuk pengembangan perkebunan inti rakyat (PIR) dan perkebunan kelapa sawit swasta berkembang dengan adanya kredit perkebunan besar swasta nasional (PBSN).

Perkembangan perkebunan kelapa sawit Indonesia cukup signifikan sehingga perkebunan kelapa sawit meningkat pesat. Kondisi ini membuat perusahaan minyak nabati di negara lain seperti Amerika dan Eropa merasa terganggu, sebab selama puluhan tahun negara-negara itu menguasai minyak nabati dari minyak kedelai itu.

Merasa tersaingi dengan produksi minyak kelapa sawit Indonesia yang lebih produktif dan efisien membuat Amerika dan Eropa khawatir. Kekhawatiran itu sangat beralasan, sebab faktanya tahun 2006 ternyata lebih dari 40 persen kebutuhan minyak nabati dunia berasal dari kelapa sawit.

Kampanye Hitam Kelapa Sawit
Kekhawatiran terhadap pesatnya perkembangan kelapa sawit Indonesia melahirkan kampanye hitam tentang perkebunan dan prodak kelapa sawit Indonesia. Tuduhan itu dilontarkan lewat prodak minyak kelapa sawit sebagai minyak nabati yang mengandung kolesterol.

Padahal tuduhan itu bisa dibuktikan dengan uji laboratorium tentang kandungan minyak kelapa sawit produksi Indonesia yang ternyata melalui kajian ilmiah dan fakta-fakta membantah tuduhan itu.

Berbagai elemen masyarakat kelapa sawit Indonesia melakukan penelitian atas tuduhan itu, termasuk Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia (MAKSI) yang dipimpin Prof Trimurtadi melakukan penelitian untuk membantah tuduhan itu.
Saat itu secara perlahan kampanye hitam itu sepi dan tidak muncul lagi.

Perkembangan perkebunan kelapa sawit dan minyak sawit Indonesia terus berkembang. Namun, kini setelah tuduhan penyebab kolesterol senyap dimunculkan isu merusak lingkungan karena kehadiran perkebunan kelapa sawit membuka hutan alam sehingga terjadi deforestasi dalam jumlah besar.

Tuduhan merusak lingkungan dengan membuka hutan alam untuk perkebunan kelapa sawit tujuannya untuk menghambat laju perkebunan kelapa sawit dan produksi minyak kelapa sawit Indonesia.

Memang harus diakui perkebunan kelapa sawit Indonesia ada yang lahannya dari membuka hutan dan banyak juga yang lahannya bukan dari membuka hutan. Hal ini juga dilakukan secara jamak oleh banyak negara di dunia ini.

Berdasarkan data FAO selama tahun 1990 sampai dengan tahun 2000 ternyata perkebunan kelapa sawit yang membuat deforestasi paling besar itu ada di negara-negara Eropa mencapai 4,16 miliar hektare.

Namun, hebatnya berkat informasi yang baik dan berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) di dunia diberdayakan untuk mengkampanyekan bahwa negara-negara di Asean, termasuk Indonesia dituduh perkebunan kelapa sawitnya merusak lingkungan.

Potensi Produk Kelapa Sawit Indonesia

Fakta yang ada Indonesia memiliki potensi yang besar akan produk kelapa sawit dan produk CPO serta produk hilirnya.

Bila dikelola dengan baik kelapa sawit Indonesia tidak akan terkalahkan.

Hal ini karena alam Indonesia dengan intensitas cahaya matahari yang ada sepanjang tahun maka produksi kelapa sawit Indonesia dapat menghasilkan sebesar 3,5 ton CPO per hektare.

Angka ini masih kecil sebab perkebunan kelapa sawit Indonesia belum dikelola secara maksimal. Bila dikelola secara maksimal bisa mencapai mencapai 6-7 ton CPO/hektare.

Potensi perkebunan kelapa sawit Indonesia bisa mencapai produksi 35 ton tandan buah segar (TBS) per hektare dengan 26 persen rendemen dan bisa menghasilkan 7 ton CPO per hektare per tahun. Namun, jumlah produksi kelapa sawit untuk crude palm oil (CPO) di seluruh Indonesia baru 6-7 persen yang tertampung di pasar lokal untuk diolah menjadi produk hilir, selebihnya harus diekspor.

Masih sedikit CPO yang diolah di Indonesia untuk prodak hilir dan lebih banyak diekspor membuka peluang besar bagi Indonesia untuk prodak hilir kelapa sawit Indonesia. Hal ini merupakan tantangan masa depan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia.

Faktanya selama ini masih banyak pengusaha kelapa sawit Indonesia yang melakukan aktivitas di hulu dari pada di hilir karena menjual CPO lebih mudah dari pada menjual produk hilir CPO.

Tidak banyak perusahaan besar yang memproduksi produk hilir CPO dan untuk menciptakan hilirisasi produk kelapa sawit membutuhkan waktu dan investasi besar. Lihat saja proyek Sei Mangkei di Sumatera Utara yang rencananya untuk prodak hilir CPO belum juga terwujud, butuh waktu entah berapa lama lagi.
Pada waktu yang bersamaan para pengusaha kelapa sawit di Indonesia masih mengeluhkan kampanye hitam produk kelapa sawit Indonesia.

Berbagai serangan non government organization (NGO) membuat pengusaha kelapa sawit kewalahan karena ternyata berpengaruh menghambat perkembangan kelapa sawit Indonesia.

Di samping itu pengusahana kelapa sawit Indonesia juga menilai biaya keluar (BK) atau pajak ekspor CPO cukup memberatkan. Kini BK atau pajak ekspor CPO sebesar 9 persen dan bila diturunkan maka membantu pengusaha sawit Indonesia karena kebutuhan CPO dalam negeri paling banyak hanya 8 juta ton per tahun, sedangkan produksi CPO Indonesia sampai 28 juta ton per tahun.

Bila dibandingkan dengan Malaysia BK atau pajak ekspor CPO hanya 4 persen maka dari segi BK atau pajak ekspor, pengusaha kelapa sawit Indonesia sudah kalah bersaing, belum lagi dari segi kualitas CPO Indonesia.

Sementara nilai ekspor CPO Indonesia terus bervariasi. Pada per November 2013 nilai ekspor CPO Indonesia sebesar US$ 17,5 miliar dan sampai Desember 2013 mencapai US$ 19,1 miliar. Sedangkan pada tahun 2012 nilai ekspor CPO sebesar US$ 21,2 miliar.

Begitu juga dengan produksi CPO Indonesia di tahun 2013 sebesar 26 juta ton dan tahun 2012 sebesar 26,5 juta ton. Tujuan ekspor CPO Indonesia masih didominasi ke India, China dan negara-negara Eropa. Di samping itu juga tujuan ekspor CPO Indonesia ada ke Timur Tengah dan Afrika.

Melihat potensi kelapa sawit dan CPO Indonesia maka seharusnya bisa menjawab kampanye hitam tentang perkebunan kelapa sawit Indonesia yang tertuduh merusak lingkungan.

Semua pihak harus sepakat untuk menjawab kampanye hitam itu dan pemerintah mendorong proyek hilir CPO Indonesia sehingga lebih besar atau sama nilai ekspor CPO Indonesia dengan kebutuhan dalam negeri CPO Indonesia. Semoga!

Penulis dosen komunikasi agribisnis Fakultas Pertanian UMSU.

 

Sumber : http://www.bumn.go.id/ptpn6/berita/2144/Ketika.Perkebunan.Kelapa.Sawit.Tertuduh.Merusak.Lingkungan

Oleh: Fadmin Prihatin Malau

Ternyata Perkebunan Kelapa Sawit Yang Membuat Deforestasi Paling Besar Itu Ada Di Negara-negara Eropa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s